Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2015–2020, Robikin Emhas, menekankan bahwa Muktamar NU yang akan berlangsung pada akhir Agustus 2026 tidak hanya sekadar menjadi ajang untuk memilih pemimpin baru. Ia menegaskan pentingnya momen tersebut untuk mengevaluasi perjalanan dan visi organisasi secara keseluruhan.
Menurut Robikin, Muktamar adalah kesempatan emas untuk memperbarui komitmen pengabdian dan mengkaji kembali tata kelola yang ada. Hal ini bertujuan agar Nahdlatul Ulama dapat selalu relevan dan adaptif terhadap perubahan zaman yang terus berlangsung.
Melalui Rembug Warga NU yang diadakan di Universitas Indonesia, Robikin mengungkapkan keprihatinannya terhadap konflik yang terjadi di kalangan elite organisasi. Ia meminta agar setiap anggota dapat bersatu untuk menjaga marwah Nahdlatul Ulama agar tidak tercoreng oleh tindakan segelintir orang.
Evaluasi Perjalanan Organisasi dalam Muktamar NU
Muktamar NU seharusnya menjadi platform untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap perjalanan organisasi. Ini bukan hanya tentang memilih Rais Aam atau Ketua Umum, tetapi juga tentang menilai capaian dan hambatan yang dihadapi selama ini.
Perjalanan Nahdlatul Ulama tak lepas dari berbagai tantangan yang menghadapi. Oleh karena itu, penting untuk merenungkan kembali arah organisasi dan bagaimana cara meningkatkan kinerja untuk umat. Setiap keputusan yang diambil harus berdasarkan pada kepentingan bersama, bukan kepentingan kelompok tertentu.
Robikin juga menekankan pentingnya menjaga integritas dan reputasi organisasi. Menurutnya, untuk mencapai tujuan yang diinginkan, semua elemen dalam NU harus bekerja sama dan saling mendukung, bukan malah terjebak dalam konflik internal yang merugikan.
Membangun Kembali Marwah NU yang Tercederai
Konflik di kalangan elite PBNU menjadi salah satu hal yang membuat marwah organisasi ini tercabik-cabik. Robikin merasa bahwa semua anggota perlu menyadari konsekuensi dari perselisihan yang terjadi dan berupaya mengakhiri konflik tersebut.
Ia menyampaikan rasa malu yang dirasakan oleh banyak anggota akibat pertikaian ini. Situasi ini tidak hanya berdampak pada citra PBNU, tetapi juga mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap organisasi ini. Oleh karena itu, kolaborasi dan komunikasi yang baik di antara anggota menjadi sangat penting.
Menurut Robikin, memperbaiki marwah NU tidak bisa dilakukan dengan cara instan. Dibutuhkan komitmen dan kerjasama dari setiap anggota untuk memastikan bahwa Nahdlatul Ulama dapat kembali menjadi organisasi yang dihormati dan disegani.
Peran Nahdlatul Ulama dalam Masyarakat dan Peradaban
Robikin menegaskan bahwa kebesaran Nahdlatul Ulama tidak diukur dari panggung yang dimiliki, melainkan dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Dengan demikian, kontribusi nyata kepada umat adalah yang terpenting dalam membangun peradaban yang lebih baik.
Peradaban yang bermartabat tidak akan terwujud jika anggota NU meninggalkan umat. Sebaliknya, mengutamakan kepentingan umat dan memberikan pelayanan yang optimal akan memperkuat posisi NU di mata publik.
Ia juga mengajak semua pihak untuk mengikuti semangat yang mendasari Nahdlatul Ulama, yakni semangat untuk memberi dan melayani. Dengan menempatkan umat sebagai prioritas, organisasi akan dapat meningkatkan kualitas peradaban yang ingin dicapai.
Harapan untuk Masa Depan Nahdlatul Ulama
Robikin berharap bahwa Muktamar NU mendatang dapat merumuskan langkah-langkah konkret untuk mengatasi berbagai masalah yang ada. Ini bukan sekadar tentang memilih pemimpin baru tetapi tentang masa depan Nahdlatul Ulama secara keseluruhan.
Melalui momen ini, organisasi diharapkan dapat mengkonsolidasikan kekuatan dan merumuskan strategi yang lebih matang. Setiap keputusan yang diambil harus berlandaskan pada aspirasi umat dan kebutuhan masyarakat saat ini.
Dengan memperkuat internal dan menjaga marwah organisasi, Nahdlatul Ulama diharapkan dapat terus berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan beradab, sehingga dapat menjalankan misi mulianya dengan efektif dan efisien.

