loading…
Ketua DPR RI Puan Maharani. Foto/Dok SindoNews
“Pelayanan kesehatan harus tetap mempertahankan unsur kemanusiaan yang berlandaskan empati, terutama kepada pasien yang terdaftar dalam BPJS,” ujarnya dalam keterangannya baru-baru ini.
Puan juga mengungkapkan pentingnya evaluasi terhadap pelayanan rumah sakit yang seringkali dikeluhkan oleh pasien untuk menghasilkan sistem yang lebih baik. Dia mendorong pemerintah untuk melakukan review menyeluruh terhadap pelayanan kesehatan di seluruh negeri.
“Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki berbagai kekurangan dalam pelayanan kesehatan, khususnya bagi pasien BPJS. Negara harus hadir untuk memastikan tidak ada pasien merasa ditinggalkan,” tegasnya.
Baca Juga: KKI Telusuri Kasus Nakes yang Diduga Beri Komentar Nirempati ke Pasien BPJS
Puan menilai serangkaian kejadian yang meliputi keluhan sulitnya akses pelayanan rumah sakit, tindakan bullying dari sebagian tenaga kesehatan di media sosial, hingga konsekuensi tragis seperti pasien meninggal dunia, merupakan indikasi bahwa masalah ini lebih dalam daripada sekadar layanan di satu rumah sakit atau perilaku individu.
“Kejadian-kejadian ini menyentuh fundamental dari pelayanan kesehatan, yakni menciptakan kepercayaan masyarakat bahwa negara akan selalu hadir di saat mereka paling membutuhkan,” tambahnya.
Perhatian terhadap isu empati dalam pelayanan kesehatan tidak bisa dianggap sepele. Dalam konteks ini, empati tidak hanya berkaitan dengan perlakuan individual dari tenaga kesehatan, tetapi juga mencerminkan bagaimana suatu sistem kesehatan beroperasi secara keseluruhan. Ketidakpuasan pasien terhadap layanan kesehatan bisa menjadi indikator penting dalam mengevaluasi kinerja sistem kesehatan itu sendiri.
Beberapa waktu terakhir, laporan mengenai keluhan pasien yang merasa diabaikan oleh tenaga kesehatan semakin meningkat. Di era digital ini, keluhan tersebut dengan cepat menyebar melalui media sosial, yang membantu menyuarakan kegundahan masyarakat. Kegiatan ini menimbulkan gelombang reaksi yang semakin memperjelas perlunya perhatian khusus terhadap empati dalam pelayanan kesehatan.
Mengapa Empati Sangat Penting dalam Pelayanan Kesehatan?
Empati dalam pelayanan kesehatan adalah salah satu kunci untuk menciptakan pengalaman positif bagi pasien. Saat tenaga kesehatan menunjukkan rasa peduli dan perhatian, pasien akan merasa lebih dihargai dan didengarkan. Hal ini berkontribusi pada kepuasan pasien secara keseluruhan.
Melalui empati, tenaga kesehatan dapat membangun hubungan yang lebih kuat dengan pasien. Hubungan ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan, tetapi juga memfasilitasi komunikasi yang lebih baik, membuat pasien lebih terbuka dalam menyampaikan keluhan atau kondisi kesehatan mereka.
Tidak jarang, pasien yang merasa dipahami dapat mengikuti anjuran medis dengan lebih baik. Ini menjadi salah satu faktor penting dalam mencapai hasil kesehatan yang lebih baik. Ketika pasien merasa bahwa tenaga kesehatannya peduli, mereka lebih cenderung untuk melakukan perawatan yang dianjurkan.
Tantangan yang Dihadapi dalam Membangun Empati
Salah satu tantangan utama dalam meningkatkan empati di dalam pelayanan kesehatan adalah tingginya beban kerja tenaga kesehatan. Di banyak rumah sakit, nakes terpaksa mengelola banyak pasien dalam waktu yang terbatas, sehingga sulit untuk menunjukkan perhatian yang diperlukan kepada setiap pasien.
Selain itu, beberapa tenaga kesehatan mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang cukup mengenai pentingnya komunikasi dan empati dalam interaksi dengan pasien. Pendekatan yang terlalu teknis dalam pendidikan medis kadang mengabaikan aspek emosional yang memainkan peran besar dalam pelayanan kesehatan.
Adanya stigma dan tekanan dari lingkungan kerja juga dapat mempengaruhi sikap empati. Tenaga kesehatan terkadang merasa tertekan untuk mencapai target tertentu, sehingga mereka kurang mampu memberikan perhatian yang seharusnya kepada pasien. Penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan menghargai sikap empati.
Peran Kebijakan dalam Meningkatkan Empati
Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan kebijakan yang mendukung dan mengedepankan empati dalam pelayanan kesehatan. Dengan mengimplementasikan pelatihan dan workshop berkala, tenaga kesehatan dapat diberikan kesempatan untuk belajar dan mengasah kemampuan empati mereka.
Kebijakan yang memberikan insentif bagi rumah sakit yang menunjukkan pelayanan empati yang baik juga dapat menjadi langkah positif. Rumah sakit bisa terus berusaha untuk meraih standar pelayanan yang lebih tinggi apabila mereka mendapatkan pengakuan lebih atas usaha yang dilakukan untuk meningkatkan pengalaman pasien.
Selain itu, makalah dan riset baru mengenai empati dalam kesehatan perlu didorong untuk menambah wawasan di kalangan tenaga kesehatan. Memperkenalkan data dan studi yang menunjukkan dampak positif dari empati terhadap hasil kesehatan bisa menjadi motivasi tambahan bagi nakes untuk beradaptasi dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

