loading…
Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM, bersama GGGI menyelenggarakan dua sesi diskusi dalam rangkaian EBTKE ConEx 2026. FOTO/dok.SindoNews
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pemerintah daerah untuk memetakan potensi energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi proyek nyata. Langkah ini dianggap krusial dalam mengembangkan potensi EBT Indonesia yang mencapai kurang lebih 3.687 gigawatt (GW).
“Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah dan peluang pengembangannya semakin terbuka,” ujar Widya Adi Nugroho, perwakilan Kepala Biro Perencanaan Kementerian ESDM. Ia menambahkan bahwa pihaknya mendukung penerapan potensi dan kebijakan energi di tingkat nasional ke dalam perencanaan yang lebih konkret.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait. Kemitraan ini diharapkan dapat memperkuat proses pemetaan dan pendanaan proyek EBT.
Pentingnya Pemetaan Potensi EBT di Daerah
Pemetaan potensi EBT dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang dapat dikembangkan di daerah. Dengan informasi yang akurat, daerah dapat menyesuaikan proyek-proyek dengan kebutuhan lokal.
Pemanfaatan potensi energi terbarukan yang ada juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru. Selain itu, proyek EBT dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan.
Kementerian ESDM melihat bahwa peluang pengembangan EBT semakin terbuka berkat penguatan ambisi nasional. Ini termasuk Program PLTS 100 GWp yang diluncurkan pada Agustus 2026, yang secara signifikan membuka ruang bagi daerah untuk melakukan inovasi.
Menyiapkan Proyek EBT yang Berkualitas
Kesiapan proyek di daerah sangat diperlukan untuk memaksimalkan potensi EBT. Ini mencakup perencanaan yang sesuai dengan karakteristik lokal serta dukungan teknis yang memadai.
Selain itu, penyiapan proyek yang matang akan meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan investasi. Dengan strategi yang jelas, investor pun akan lebih tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek tersebut.
Fokus pada ketersediaan skema pembiayaan sangat krusial. Proyek yang baik harus mampu menghubungkan antara sumber pendanaan dan calon investor untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.
Kolaborasi untuk Masa Depan Energi Terbarukan
Kolaborasi antara Kementerian ESDM dan Global Green Growth Institute (GGGI) melalui proyek Renewable Energy–Accelerated Transition in Indonesia (RE-ACT) menjadi salah satu strategi efektif. Inisiatif ini telah berjalan sejak 2021 dan bertujuan untuk menyatukan kebijakan energi nasional dengan implementasi di tingkat daerah.
Proyek ini juga membuka akses yang lebih besar terhadap pembiayaan dan investasi, sehingga masing-masing daerah bisa memanfaatkan potensi EBT secara optimal. Dalam lima tahun ke depan, diharapkan akan terjadi peningkatan signifikan dalam keterhubungan antara proyek EBT dan sumber dana.
Dengan dorongan dari pemerintah, diharapkan banyak daerah yang mampu merancang dan mengeksekusi proyek energi terbarukan. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi daerah tersebut tetapi juga berkontribusi pada pencapaian target energi nasional.

