loading…
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Nugroho Sulistyo Budi menekankan pentingnya penguatan ketahanan siber di kawasan ASEAN. Ini menjadi perhatian serius mengingat kompleksitas ancaman siber yang terus berkembang.
Kegiatan ini berlangsung dalam konteks 11th ASEAN Ministerial Conference on Cybersecurity (AMCC) yang dihelat di Singapura. Pertemuan tersebut menunjukkan keseriusan para pemangku kebijakan dalam menghadapi tantangan siber di era digital.
Pada konferensi tersebut, para Menteri dan pejabat tinggi dari negara-negara anggota ASEAN berbagi pandangan dan strategi mengenai keamanan siber. Diskusi ini bertujuan untuk menciptakan kolaborasi yang lebih baik di antara negara-negara ASEAN dalam menghadapi risiko yang menyasar infrastruktur digital.
Mengatasi Ancaman Siber yang Semakin Kompleks
Dalam sambutannya, Nugroho menggarisbawahi bahwa AMCC ke-11 bukan hanya sekadar forum biasa tetapi merupakan momen strategis untuk memperkuat komitmen bersama. Negara-negara ASEAN, menurutnya, harus bersatu dalam menghadapi perkembangan ancaman yang merentang melampaui batas-batas nasional.
Isu-isu yang dibahas selama konferensi mencakup berbagai tantangan seperti ancaman siber berbasis kecerdasan buatan. Selain itu, ransomware dan penipuan daring juga menjadi sorotan utama, di mana kedua hal ini menjadi semakin meresahkan bagi masyarakat.
Tidak hanya itu, perlindungan terhadap Infrastruktur Informasi Vital (IIV) juga menjadi pokok bahasan penting. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN berkomitmen untuk melindungi aset-aset strategis yang mendukung keamanan digital kawasan.
Strategi Penguatan Kerja Sama Keamanan Siber di ASEAN
Pertemuan ini juga menandai peluncuran ASEAN Cybersecurity Cooperation Strategy 2026–2030. Strategi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi setiap negara anggota dalam menciptakan keamanan siber yang lebih baik. Kerjasama dalam pertukaran informasi ancaman siber menjadi salah satu fokus utama dari strategi ini.
Dalam rangka meningkatkan kapasitas keamanan siber, negara-negara ASEAN berencana untuk melakukan pelatihan dan workshop bersama. Tujuannya adalah untuk memperkuat keterampilan dan pemahaman para profesional di bidang siber di seluruh kawasan.
Penguatan operasional ASEAN Regional CERT juga menjadi pembahasan penting. Dengan adanya pertukaran informasi dan pengalaman, negara-negara ASEAN diharapkan dapat lebih siap dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
Menyesuaikan Diri dengan Perkembangan Teknologi Terkini
Salah satu isu utama yang diangkat dalam pertemuan tersebut adalah kesiapan dalam menghadapi perkembangan komputasi kuantum. Jika tidak diantisipasi, teknologi ini dapat membawa tantangan yang signifikan untuk keamanan siber. Oleh karena itu, migrasi menuju Post-Quantum Cryptography (PQC) menjadi langkah proaktif untuk menghadapi ancaman tersebut.
Nugroho menekankan pentingnya semua negara untuk berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam dunia cyber. Kesiapan menghadapi ancaman berbasis teknologi canggih menjadi kunci untuk menjaga kedaulatan siber di kawasan.
Diskusi mengenai kejahatan siber yang semakin canggih dan terorganisir juga menjadi bagian integral dari konferensi. Jika dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya hanya melihat kejahatan secara kasat mata, saat ini, penipuan dan ancaman yang lebih tersembunyi juga perlu diperhatikan.

