loading…
Biosida Pendingin Data Center Purwakarta Bisa Jadi Ancaman. Foto/ Dok MPI
PURWAKARTA – Baru saja diresmikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, akhirnya KDM menghentikan sementara pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Penyebabnya, BDX Data Centers sebagai pihak yang membangun proyek tersebut belum mengantongi analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan persetujuan bangunan gedung (PBG).
Dikatakan Dedi, proyek pembangunan pusat data AI jangan dulu dimulai sebelum ada dokumen AMDAL dan PBG. Ketiadaan dua dokumen tersebut berpotensi menimbulkan masalah dalam pembangunan proyek.
Namun lepas perihal perizinan soal pendirian data center perlu banyak pertimbangan, selain air merupakan salah satu sumber daya paling vital dalam kehidupan manusia; air digunakan setiap hari untuk minum, memasak, kebersihan diri, dan berbagai aktivitas lainnya.
Di luar perannya dalam rutinitas sehari-hari, kini air memegang peranan krusial dalam kemajuan teknologi modern dengan berfungsi sebagai media pendingin bagi mesin dan server yang ditempatkan di pusat data kecerdasan buatan (AI).
Masalah Lingkungan dan Ketidakcukupan Sumber Daya Air
Pembangunan proyek pusat data tentunya harus mempertimbangkan dampak lingkungan yang mungkin timbul. Setiap pusat data membutuhkan pasokan air yang cukup untuk operasional sistem pendingin mereka.
Ketergantungan terhadap air sebagai pendingin sangat tinggi, terutama dalam konteks data center yang beroperasi 24/7. Tanpa adanya air yang cukup, risiko overheating pada perangkat keras menjadi suatu ancaman yang serius.
Dalam kondisi kekeringan, tantangan ini akan semakin menonjol, menjadikan pusat data sangat rentan terhadap ketidakcukupan sumber daya air. Itu menuntut perhatian serius dari para pengembang agar mempertimbangkan keberlanjutan proyek mereka.
Kurangnya perencanaan terhadap penggunaan sumber daya air juga dapat memperburuk masalah krisis air yang sedang dihadapi oleh banyak daerah. Oleh karena itu, setiap proyek baru harus mempertimbangkan dampaknya secara menyeluruh.
Dampak Pengoperasian Pusat Data Terhadap Sumber Daya Air
Setiap sesi interaksi dengan AI membutuhkan pasokan air yang tidak sedikit. Diperkirakan bahwa sesi interaksi selama 30 menit dengan AI mengonsumsi sekitar 600 mililiter air—setara dengan satu botol air mineral ukuran standar.
Ribuan server berbasis AI menghasilkan panas yang sangat besar selama operasi sehari-hari. Tanpa pendinginan yang tepat, suhu tinggi dapat menyebabkan kelumpuhan seluruh sistem.
Data menunjukkan bahwa operasional pusat data di beberapa negara memerlukan pasokan air sekitar 70.000 liter per hari untuk setiap megawatt kapasitas operasional. Ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan air yang harus dipenuhi.
Dalam periode penggunaan yang lebih panjang, total konsumsi air dapat menjadi sangat signifikan. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya air harus diintegrasikan dengan pengembangan pusat data.
Kekhawatiran Terkait Penggunaan AI dan Sumber Daya Alam
Meningkatnya penggunaan AI menimbulkan kekhawatiran mengenai tekanan terhadap sumber daya air, terutama di wilayah yang rawan terhadap masalah kekeringan. Ini menjadi isu yang perlu diawasi secara ketat.
Pabrik pusat data yang beroperasi di daerah dengan kondisi iklim yang menantang perlu mempertimbangkan sistem pengelolaan air yang lebih efisien. Jika tidak, ancaman terhadap kelangsungan projek sangat nyata.
Keberlanjutan proyek harus menjadi fokus utama agar mereka tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan. Upaya perlu dilakukan untuk memastikan bahwa penggunaan air tetap berkelanjutan.
Selain itu, pendekatan inovatif dalam penggunaan sumber daya air yang lebih hemat akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. Pemanfaatan teknologi untuk penghemat air dalam pusat data perlu diimplementasikan.

