loading…
KLB Majelis Kaum Betawi tetapkan Bang Foke sebagai Ketua Dewan Adat. Foto/istimewa
JAKARTA – Majelis Kaum Betawi (MKB) menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) di Jakarta Pusat pada Jumat, 21 Agustus 2026. Kongres ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kembali institusi adat Betawi serta merangkul berbagai potensi di masyarakat Betawi yang selama ini tersebar di berbagai organisasi dan komunitas.
KLB dibuka oleh Ketua Dewan Adat MKB, H Fauzi Bowo, atau yang akrab disapa Bang Foke. Agenda ini merupakan tahap konsolidasi yang telah diawali dengan silaturahmi dan doa bersama di Museum MH Thamrin, Jakarta Pusat, menunjukkan komitmen bersama untuk melestarikan adat dan budaya.
Selama kongres, MKB membahas agenda strategis terkait arah kelembagaan adat dan kebudayaan Betawi. Salah satu agenda utama adalah perubahan nama MKB menjadi Lembaga Adat Kebudayaan Betawi (LAKB), diiringi penetapan kaidah dasar kelembagaan yang lebih kuat dan mendukung.
Perubahan ini diarahkan untuk menyelaraskan kelembagaan masyarakat Betawi dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta, serta memperkuat posisi lembaga adat sebagai wadah dalam menaungi beragam unsur masyarakat Betawi. Hal ini menjadi langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan dan kontribusi adat Betawi dalam kehidupan masyarakat.
Selain perubahan nomenklatur, KLB juga menetapkan dan mengukuhkan H Fauzi Bowo sebagai Ketua Dewan Adat LAKB. Dalam kesempatan tersebut, ia juga dianugerahi gelar Datuk Mua’allim Ahlul Adat sebagai bentuk penghormatan terhadap perannya yang signifikan dalam penguatan adat dan kebudayaan Betawi.
Tidak hanya keputusan terkait perubahan kelembagaan, KLB MKB juga menghasilkan rekomendasi penting untuk memperkuat posisi adat dan kebudayaan Betawi ke depan. Hal ini menandakan harapan dan komitmen para pemangku adat untuk menjaga serta melestarikan warisan budaya yang ada.
Relevansi Perubahan Nomenklatur dalam Konteks Adat Betawi
Perubahan nama dari MKB menjadi LAKB bukan sekadar perubahan administratif. Nama yang baru diharapkan dapat mencerminkan eksistensi dan modernitas masyarakat Betawi dalam menghadapi tantangan zaman.
Pentingnya nomenklatur yang tepat mencerminkan identitas dan karakteristik unik masyarakat Betawi. Selain itu, perubahan ini juga diharapkan dapat meningkatkan daya tarik dan pemahaman masyarakat luas mengenai kebudayaan Betawi.
Dengan adanya lembaga yang lebih representatif dan struktural, diharapkan masyarakat Betawi mendapatkan pengakuan yang lebih luas. Langkah ini juga dapat membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mengembangkan potensi yang ada.
Penguatan lembaga ini menjadi perlu, mengingat Betawi memiliki warisan budaya yang kaya dan beragam. Dengan lembaga yang lebih solid, masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam pelestarian budaya lokal dalam lingkup yang lebih besar.
Relevansi perubahan ini juga diharapkan dapat membawa dampak positif bagi generasi muda. Mereka akan lebih mengenal dan merasa bangga akan identitas budaya masyarakat mereka sendiri, serta terdorong untuk berkontribusi dalam pelestarian budaya tersebut.
Peran Strategis H Fauzi Bowo dalam Memperkuat Kelembagaan
Ketua Dewan Adat yang baru, H Fauzi Bowo, membawa pengalaman dan dedikasi yang tinggi dalam bidang adat dan budaya Betawi. Dengan pengalamannya, diharapkan dapat mengarahkan lembaga ini ke arah yang lebih baik dan produktif.
Gelar Datuk Mua’allim Ahlul Adat yang diterima menjadi bentuk pengakuan terhadap komitmen dan kontribusinya dalam pelestarian adat. Hal ini juga menunjukkan pentingnya figur pemimpin yang memahami akar budaya dan sejarah masyarakat Betawi.
Fauzi Bowo memiliki visi jangka panjang terhadap pengembangan lembaga, mencakup upaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mempertahankan budaya. Ia juga berencana untuk menjalin kerjasama dengan institusi lain yang memiliki tujuan serupa.
Peran strategisnya dalam memperkuat kelembagaan ini diharapkan mampu menciptakan jaringan yang luas. Melalui kolaborasi dan sinergi, masyarakat Betawi dapat lebih berdaya dan terhubung dengan berbagai elemen budaya lainnya.
Pendidikan dan pelatihan juga menjadi fokus utama Fauzi Bowo dalam jangka pendek. Dengan mengedukasi generasi muda, diharapkan mereka dapat memahami dan menghargai kebudayaan yang dimiliki, serta siap menjadi pelopor dalam pelestarian kebudayaan tersebut.
Rekomendasi dan Langkah Strategis Lanjutan untuk Budaya Betawi
KLB MKB tidak hanya sekadar mengubah nama, tetapi juga merumuskan sejumlah rekomendasi yang menjadi pedoman untuk pengembangan budaya Betawi. Rekomendasi ini mencakup berbagai aspek yang semakin menyentuh lingkungan sosial, pendidikan, dan ekonomi.
Langkah pertama adalah penyusunan program kerja yang melibatkan masyarakat luas dalam konservasi budaya. Di dalam program ini, masyarakat diharapkan aktif berpartisipasi dalam pelestarian tradisi yang ada.
Kolaborasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, juga menjadi strategi penting untuk merealisasikan rekomendasi tersebut. Keberadaan mitra yang mendukung dapat mempercepat pelaksanaan program-program yang telah dirancang.
Pembinaan generasi muda mesti menjadi prioritas utama di dalam setiap langkah. Generasi muda adalah aset berharga yang dapat mewarisi, mengembangkan, dan melestarikan budaya Betawi di masa depan.
Terakhir, evaluasi berkala terhadap program-program yang telah dilaksanakan akan membantu dalam menentukan keberhasilan dan kelemahan yang ada. Dengan demikian, lembaga ini dapat terus beradaptasi dan berinovasi demi kelestarian budaya Betawi yang lebih baik.

