Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI M Jusuf Kalla yang akrab disapa JK memberikan kuliah umum di Northern Illinois University (NIU) Amerika Serikat. Dalam kuliah tersebut, JK menjelaskan berbagai aspek terkait konflik global yang sering kali dipicu oleh faktor-faktor yang kompleks dan saling berinteraksi.
Materi kuliah yang berjudul “Lessons From the for Peace; Aceh, Afghanistan, and Southern Thailand” menarik perhatian banyak mahasiswa dan akademisi yang hadir. JK menekankan pentingnya memahami latar belakang sejarah dalam menyelesaikan konflik yang ada.
Di hadapan sejumlah akademisi ternama dan mahasiswa program doktoral yang mempelajari studi perdamaian, JK bicara tentang faktor-faktor yang memicu konflik yang sering dikenal dengan istilah 3G: God, Glory, dan Gold. Penjelasan ini memberikan pandangan yang lebih mendalam tentang dinamika konflik di seluruh dunia.
Faktor Penyebab Konflik Menurut Jusuf Kalla
Dalam penjelasannya, JK menyebutkan bahwa banyak konflik di dunia saat ini diakibatkan oleh kombinasi dari kepentingan ekonomi dan rasa kekuasaan. Hal ini terlihat jelas dalam konteks geopolitik berbagai negara besar, termasuk AS, yang sering kali memanfaatkan sumber daya alam negara lain untuk kepentingan ekonominya.
JK menjelaskan bahwa pelibatan kekuatan militer dalam konflik seperti yang terjadi di Iran dan Venezuela menunjukkan bagaimana kepentingan ekonomi bisa mendominasi kebijakan luar negeri. “Amerika seringkali menggabungkan ekonomi dan kekuasaan untuk mendapatkan apa yang diinginkan,” ungkap JK.
Selain itu, JK juga menggarisbawahi bahwa konflik yang muncul akibat agama membawa dampak yang sama seriusnya. Banyak pihak yang terlibat dalam konflik ini seringkali mengklaim surga sebagai barang dagangan bagi para pejuang mereka, yang jelas tidak sejalan dengan ajaran kitab suci agama manapun.
Konflik Agama: Antara Keberanian dan Kesalahpahaman
Khususnya dalam konteks konflik yang disebabkan oleh perbedaan agama, JK menyebutkan bahwa hal ini tidak bisa dibenarkan. Ia mengingatkan bahwa kitab suci dari berbagai agama pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai kedamaian dan tidak memperbolehkan tindakan saling membunuh.
JK mengambil contoh konflik yang terjadi di Poso dan Ambon di Indonesia sebagai gambaran nyata dari konflik horizontal berbasis agama yang mengakibatkan ribuan korban jiwa. “Konflik tersebut menunjukkan bahwa kesalahpahaman antaragama dapat berakibat fatal,” tegas JK.
Dia juga menambahkan, bahwa upaya untuk mempromosikan perdamaian seharusnya menjadi fokus utama semua pihak, mengingat banyaknya nyawa yang hilang akibat konflik berbasis agama ini.
Perspektif Sejarah dan Kebijakan Penjajahan
Dalam pandangannya, JK menyatakan bahwa banyak konflik yang ada saat ini juga dipengaruhi oleh kebijakan penjarahan sejarah. Ia mengajak audiens untuk melihat kembali peran yang dimainkan oleh berbagai kekuatan kolonial dalam membentuk dinamika sosial dan konflik di negara-negara tertentu.
Ia merujuk pada konflik yang berlangsung di Thailand Selatan, di mana Inggris pernah membuat keputusan sepihak yang mempengaruhi etnis dan agama masyarakat setempat. Ini dikhawatirkan bisa menciptakan keretakan dan ketidakpuasan yang berkepanjangan.
JK menekankan bahwa banyak konflik yang berkepanjangan, seperti yang terjadi di Palestina dan terhadap etnis Rohingya di Myanmar, sebenarnya berakar pada keputusan yang diambil oleh penjajah di masa lalu. Ini adalah pelajaran penting yang harus diingat dalam upaya menyelesaikan konflik saat ini.

