loading…
Tulus Abadi, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI). Foto/Dok. SindoNews
Pegiat Perlindungan Konsumen
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI)
PEMERINTAH dan Badan Anggaran DPR, telah menetapkan besaran subsidi energi untuk edisi 2027 sebesar Rp261,5 triliun. Angka nominal ini turun sekitar Rp11,44 triliun, dibanding anggaran subsidi energi pada 2026 yang sebesar Rp272,94 triliun. Salah satu pos anggaran yang dipangkas adalah anggaran untuk subsidi gas elpiji 3 kg.
Sebab pasokan untuk gas elpiji 3 kg berkurang hampir 1.000 metrik ton (MT). Pengurangan subsidi gas elpiji 3 kg bukan tanpa alasan, yakni untuk menekan beban impor gas elpiji. Mengingat secara keseluruhan lebih dari 50 persen kebutuhan gas elpiji masih diimpor.
Namun di sisi yang lain, agar tidak terjadi kekurangan kebutuhan energi di rumah tangga menengah bawah, pengurangan pasokan gas elpiji 3 kg telah dimitigasi oleh pemerintah, yakni, sebagian pengguna gas elpiji 3 kg akan dimigrasikan menjadi pengguna gas alam terkompresi Compressed Natural Gas (CNG) dan juga kompor induksi. Nah, itulah dua jurus mitigasi agar masyarakat tetap mendapatkan haknya menggunakan energi yang disubsidi. Subsidi energi adalah hak warga negara yang dijamin via UU tentang Energi.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana kesiapan dan tantangan upaya memigrasikan CNG dan kompor induksi pada rumah tangga menengah bawah? Bagaimana pula mitigasinya, terkait harga, pasokan, keandalan dan terutama aspek keamanannya?
Untuk CNG, pasokannya tentu aman, bahkan Indonesia merupakan negara eksportir CNG. Sebab itulah pengguna gas elpiji 3 kg dimigrasikan menjadi pengguna CNG, yang nota bene produk lokal. Namun ada beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian dan patut dipertanyakan.
Pertama, aspek teknis dan safety-nya. Pemerintah mengklaim saat ini sedang merampungkan uji kelaikan tabung CNG, yang diimpor dari China.
Kedua, yang musti dimitigasi bukan hanya persoalan aspek teknis saja, tetapi juga aspek sosiologis, bahkan antropologis. Dalam hal ini, sangat mendesak upaya sosialisasi dan deseminasi secara mendalam bagi masyarakat yang akan dimigrasikan menjadi calon pengguna gas CNG. Misalnya bagaimana kalau terjadi kebocoran, seperti bocornya gas elpiji.
Pembangunan infrastruktur energi di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal migrasi dari gas elpiji ke gas alam terkompresi (CNG) dan kompor induksi. Perubahan ini diharapkan dapat menjaga kelangsungan pasokan energi sambil mengurangi ketergantungan pada impor. Untuk mendukung ini, pemerintah perlu memastikan kesiapan infrastruktur dan masyarakat dalam menjalani transisi ini. Ini bukan sekadar perubahan teknis, tetapi juga menyangkut aspek sosial yang lebih luas.
Keberadaan gas alam sebagai sumber energi alternatif menuntut langkah-langkah strategis, tidak hanya dari segi administratif, tetapi juga teknis dan pendidikan masyarakat. Pemerintah, dalam hal ini, harus memfasilitasi pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat agar menggunakan CNG dengan aman dan efektif. Terlebih, selaras dengan pertumbuhan populasi dan kebutuhan energi yang terus meningkat.
Persiapan Pemerintah dalam Transisi Energi untuk Masyarakat
Pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mempercepat transisi ke penggunaan CNG dan kompor induksi. Sebagai salah satu langkah mitigasi, penyaluran informasi dan edukasi di tingkat komunitas menjadi elemen penting. Edukasi ini ditujukan agar masyarakat memahami betul mengenai keunggulan dan cara penggunaan CNG dengan aman.
Dalam proses ini, penguatan tim koordinasi antara kementerian dan lembaga terkait menjadi sangat penting. Mereka bertugas memastikan bahwa rakyat mendapatkan akses informasi yang cukup. Hal ini juga termasuk dalam penyusunan standar keamanan yang harus dipatuhi oleh setiap pengguna CNG di rumah tangga.
Kesiapan infrastruktur juga menjadi faktor kunci dalam keberhasilan transisi energi ini. Pembangunan stasiun pengisian dan penyaluran CNG harus dilakukan secara merata agar semua masyarakat, khususnya di daerah terpencil, tetap bisa mengaksesnya. Keterjangkauan dan ketersediaan CNG akan sangat memengaruhi keputusan masyarakat untuk beralih dari gas elpiji.
Pendekatan Sosial dalam Mendorong Penggunaan CNG
Pendekatan sosial berperan sangat signifikan dalam menjamin suksesnya transisi dari gas elpiji ke CNG. Masyarakat perlu diberi pemahaman tentang manfaat dari CNG dibandingkan dengan gas elpiji. Di samping itu, stigma dan ketakutan yang mungkin muncul terkait penggunaan CNG harus bisa diatasi dengan baik.
Mendorong forum diskusi di tingkat masyarakat maupun desa bisa menjadi pilihan untuk meningkatkan pemahaman ini. Dari situ, masyarakat bisa berbagi pengalaman, keluhan, atau kesulitan yang dihadapi saat beradaptasi dengan CNG. Ini akan membentuk rasa kepemilikan dan kepercayaan masyarakat terhadap energi baru ini.
Inisiatif lokal dalam penggunaan CNG juga bisa menjadi contoh bagi komunitas lain. Ketika masyarakat bisa melihat contoh nyata personel yang berhasil beralih ke CNG, itu akan mendorong mereka untuk mengikuti langkah yang sama. Keterlibatan masyarakat dalam proses ini sangat mendukung keberhasilan transisi energi secara keseluruhan.
Risiko dan Tantangan dalam Migrasi ke CNG dan Kompor Induksi
Tantangan terbesar dalam migrasi gas elpiji ke CNG adalah terkait dengan persepsi keselamatan. Masyarakat mungkin merasa lebih nyaman dengan gas elpiji yang sudah familiar, sementara CNG adalah teknologi yang lebih baru. Ini memerlukan upaya ekstra dalam menjelaskan dan menunjukkan bahwa CNG adalah pilihan yang aman.
Di samping itu, ada juga tantangan terkait infrastruktur yang masih belum merata. Banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki akses ke fasilitas pengisian CNG. Ini akan memengaruhi taraf adopsi CNG di lingkungan mereka. Infrastruktur yang belum siap akan mengakibatkan ketidakpuasan di kalangan pengguna baru.
Ada juga faktor biaya, baik dari sisi penggunaan kompor induksi maupun peralihan ke sistem CNG. Kompor induksi memerlukan investasi awal yang cukup besar, meskipun penghematannya akan terasa dalam jangka panjang. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang jelas tentang biaya dan manfaat jangka panjang dari beralih energi.

