Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan yang signifikan pada akhir perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Penurunan ini tercatat sebesar 44 poin atau sekitar 0,24%, sehingga membuat rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS.
Data JISDOR BI juga menunjukkan bahwa rupiah menyentuh angka Rp18.131 per USD, lebih rendah daripada sesi sebelumnya yang berada di Rp18.069. Fenomena ini mencerminkan ketidakpastian yang melanda pasar uang domestik dan global.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengemukakan bahwa salah satu sentimen yang mempengaruhi pelemahan ini adalah situasi eksternal. Interaksi yang tegang antara AS dan Iran baru-baru ini meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.
Penyebab Pelemahan Rupiah yang Berkaitan dengan Geopolitik
Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat ketika kedua negara melancarkan serangan rudal dan drone. Iran dilaporkan menargetkan fasilitas AS di berbagai lokasi di sekitar Teluk pada hari Minggu.
Serangan tersebut menimbulkan keraguan tentang kelangsungan perjanjian sementara yang sebelumnya ditandatangani oleh kedua pihak. Perjanjian ini bertujuan untuk mengurangi ketegangan di Selat Hormuz yang sangat vital bagi jalur perdagangan internasional.
Menurut Ibrahim, kondisi ini membuat pasar keuangan berada dalam ketakutan akan ketidakpastian yang lebih panjang. Hal ini menyebabkan investor mulai mengalihkan perhatian dari aset yang berisiko tinggi ke aset yang lebih aman.
Dampak Ekonomi dari Ketegangan Internasional
Pelemahan rupiah tidak hanya menciptakan dampak terhadap nilai mata uang, tetapi juga terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ketidakstabilan di pasar valuta asing berpotensi memengaruhi biaya impor yang dihadapi pelaku bisnis lokal.
Bila nilai tukar rupiah terus melemah, maka harga barang impor bisa naik, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi. Inflasi yang tinggi dapat mengikis daya beli masyarakat dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Selain itu, investor asing juga mungkin akan berpikir dua kali untuk menanamkan modal mereka. Kecenderungan untuk menarik kembali investasi dari negara yang dianggap berisiko tinggi bisa terjadi.
Respon Pemerintah terhadap Pelemahan Rupiah
Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah-langkah yang mampu mengatasi gejolak ekonomi ini. Salah satu metode yang bisa dilakukan adalah memperkuat cadangan devisa agar dapat menstabilkan nilai tukar rupiah.
Selain itu, penegakan kebijakan fiskal yang lebih ketat juga dapat menjadi opsi. Ini termasuk pengawasan lebih ketat terhadap pengeluaran pemerintah dan penyesuaian dalam pajak untuk memperkuat kepercayaan investor.
Inisiatif untuk memperbaiki hubungan diplomatik juga perlu dilakukan, terutama di tengah ketegangan yang terjadi di kawasan. Upaya ini dapat membantu menciptakan iklim yang lebih stabil bagi investasi asing.

