loading…
Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah, segera tiba dengan berbagai makna dan sejarah yang mendalam. Dalam konteks Islam, bulan ini tidak hanya dijadikan sebagai penanda waktu, tetapi juga memiliki sejumlah praktik dan kepercayaan yang dipegang oleh umat Muslim.
Setiap tahun, pembacaan dan pemahaman tentang bulan Safar menjadi penting untuk membantu umat Islam melakukan refleksi dan perencanaan ibadah. Pada tahun ini, Bulan Safar akan tiba pada tanggal berbeda menurut kalender yang dikeluarkan pemerintah dan Muhammadiyah.
Pentingnya mengetahui jadwal Bulan Safar sangat relevan bagi umat Muslim saat merencanakan ibadah sunnah serta berbagai keperluan administratif. Seiring pengertian yang lebih mendalam perihal bulan ini, mari kita gali lebih dalam sejarah dan makna Bulan Safar dalam konteks agama dan budaya.
Perbedaan Penetapan Awal Bulan Safar antara Dua Versi
Berdasarkan penetapan yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, 1 Safar 1448 Hijriah akan jatuh pada hari Kamis, tanggal 16 Juli 2026. Dengan durasi 29 hari, bulan ini akan berakhir pada 13 Agustus 2026.
Di sisi lain, menurut Kalender Hijriah Global Tunggal yang digunakan oleh Muhammadiyah, 1 Safar 1448 H jatuh pada Rabu, 15 Juli 2026. Dalam metode ini, Bulan Safar berlanjut selama 30 hari, juga berakhir pada 13 Agustus 2026.
Perbedaan penetapan tanggal ini terjadi akibat penggunaan metode yang berbeda dalam menghitung kalender Hijriyah. Meskipun demikian, kedua versi sepakat bahwa akhir Bulan Safar adalah pada tanggal yang sama, yaitu 13 Agustus 2026.
Sejarah dan Makna Penamaan Bulan Safar
Bulan Safar sudah ada dan dikenali masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam. Pada zaman Jahiliah, masyarakat Arab telah menggunakan kalender berdasarkan bulan sebagai alat pengukur waktu. Bulan yang kita kenal sebagai Muharram disebut Shafar Al-Awwal, sedangkan bulan kedua dinamakan Shafar Ats-Tsani.
Dari segi linguistik, istilah “Safar” memiliki arti kosong. Hal ini mencerminkan kondisi yang terjadi di kalangan masyarakat Arab pada waktu itu, di mana banyak pria meninggalkan rumah untuk berdagang, berburu, atau berperang, sehingga banyak rumah menjadi kosong.
Bebagai pendapat ulama mengaitkan istilah Safar dengan makna “kuning”. Namun, penjelasan yang paling umum berkaitan dengan keadaan populasi yang berkurang akibat ditinggalkannya kawasan tersebut oleh warganya.
Kedudukan Bulan Safar dalam Pandangan Islam
Dalam syariat Islam, kedudukan Bulan Safar sama pentingnya dengan bulan-bulan Hijriyah lainnya. Namun, bulan ini tidak termasuk dalam kategori empat bulan haram yang sangat dihormati dalam Islam.
Keempat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, sebagaimana tertera dalam kitab suci Al-Qur’an. Kedudukan ini menunjukkan bahwa setiap bulan memiliki peranan dan maknanya masing-masing.
Meskipun tidak dianggap sebagai bulan suci, bulan Safar memiliki keunikan dan kesempatan bagi umat Muslim untuk merenung dan melakukan persiapan spiritual. Dengan demikian, Bulan Safar tetap menjadi waktu yang berharga untuk meningkatkan ibadah.
Amalan yang Dianjurkan Selama Bulan Safar
Meskipun tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan selama Bulan Safar, ada berbagai amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan. Salah satu yang paling dikenal adalah melakukan puasa, baik puasa sunnah maupun puasa syawal yang terputus.
Selain puasa, memperbanyak doa dan dzikir juga sangat dianjurkan selama bulan ini. Dalam tradisi beberapa komunitas, ada yang melakukan ziarah ke makam para ulama atau orang-orang beriman sebagai bentuk penghormatan.
Masyarakat juga sering memperingati peristiwa penting dalam sejarah Islam yang berhubungan dengan bulan ini. Dengan cara ini, Bulan Safar menjadi momen refleksi untuk kembali kepada pencarian spiritual dan harapan untuk memperbaiki diri.

